Pendakian Merapi Pasca Erupsi 2010, Jalur Berubah!

siap nanjak

siap nanjak

kemarin tanggal 9 Februari 2011, kebetulan ada seorang temen, sebut saja Cecep (bukan nama sebenarnya) dari Jakarta yg mau maen ke Jogja. niat awal ke Jogja pengen mendaki Merbabu via Selo, Boyolali dan minta saya untuk nganter nemenin ndaki. namun ketika sedang berhenti makan siang di warung soto mbah Somo, daerah Cepogo, sekonyong-konyong Cecep berubah pikiran, pengen ke Merapi saja katanya. sebelumnya sudah tak kasih tau kalo ke Merapi kemungkinan besar mentok di Pasar Bubrah (ada juga yg sebut Pasar Bubar), karena kata seorang teman saya yg telah mendaki Merapi pasca erupsi kemarin belum ada orang yg ke puncak, jadi jalur belum ada, pijakan masih labil, juga kemungkinan masih banyak batu anget maupun panas.. tapi Cecep tetep pengen ke Merapi, ya udah apa boleh baut. kebetulan malemnya juga ada temen dari Karanganyar, sebut saja Enda (bukan nama sebenarnya, bukan personil Unyu Ungu juga) :mrgreen: yg mau nyusul. lanjut berangkatlah kita ke tulisan gede New York Selo, saya boncengin seorang temen yg ikut nganter (Ade, bukan nama sebenarnya :-P ) ke basecamp pendakian, sementara Cecep pake Mio si Ade dengan membawa tas carriernya dan carrier saya. tanjakan curam menuju Joglo New Selo menjadi siksaan bagi si Mio yg ternyata ngos-ngosan dan akhirnya ga kuat nanjak, dan carrier saya pun ditinggal di bawah basecamp! :shock: hadeh.. saat istirahat sebentar di deket Joglo ternyata motor-motor matik pada ga kuat, tercatat 2 Vario juga ga kuat nanjak. masih mending Skywave saya dulu lancar sampe Joglo.. (ngalem nggone dhewe) :-D

 

mampir makan siang, 2 motornya juga istirahat

setelah istirahat dan turun lagi ke basecamp naruh motor, jam 2.07 saya dan Cecep siap ndaki.. sementara Ade pulang ke Jogja. trims mbak udah dianter sampe basecamp Selo! Pendakian dimulai! dari Joglo naik jalur masih seperti yg dulu, hingga sampai di pertengahan ladang jalur berubah yg dulunya belok ke kanan sekarang terus lurus menyusuri pinggir sungai tak berair. jadi ga usah bingung kalo merasa dulu di pinggir sungai cuma bentar sekarang jadi lama (saya sempet ragu :mrgreen: ) karena sebelum pos 1 (Selokopo bawah) sudah ketemu lagi dengan jalur lama. setelah pos 1 ada 2 pilihan, ke kanan yg nanjak curam lewat punggungan, ato ke kiri yg agak landai, ada yg menyebut jalur Kartini. dari sini saya pilih kiri jalur Kartini, karena perkiraan hembusan angin yg cukup gede dari arah barat akan sangat terasa di punggungan dan dulu jalur kiri lebih santai. eh ga taunya.. sampe di tengah-tengah banyak pohon tumbang yg menutupi jalur hingga mirip-mirip buka jalur baru menerobos batang dan ranting pohon. mau balik kok tanggung, lanjut deh.. kemudian ada pertigaan, kita ambil yg ke kanan menanjak menuju pos 2 (Selokopo atas), di situ pohon yg tumbang bener-bener menutup jalur. wew.. dengan cukup banyak perjuangan akhirnya bertemu dengan jalur yg lewat punggungan dan sampai di Selokopo atas. alhamdulillah..

jalur Kartini, sebelah kanan jalurnya nyaris ga keliatan tertimbun pohon yg bertumbangan

lanjut dari pos 2, jalur masih seperti yg dulu, hanya tambah dihiasi oleh pohon-pohon tumbang, tapi ga terlalu banyak dan sebagian udah dipindah dari jalur, mungkin oleh pendaki sebelumnya. selanjutnya trek bebatuan menanjak dengan beberapa pohon kecil di sekitar jalur menguji fisik dan mental kita, kaki saya pun sempet kram di sini, kurang pemanasan nih untung saja masih bisa lanjut. sekitar jam 6an kita sampai di Watu Gajah di atas pos 2, sempet terpikir untuk¬† ngecamp di Pasar Bubrah tapi urung kita lakukan karena kabut tebal menjadikan jarak pandang terbatas, angin gede, serta perasaan saya sudah tidak enak. saya ajak Cecep untuk ngecamp di dekat situ saja, karena setelah itu nggak ada tempat ngecamp lagi selain Pasar Bubrah yg kita juga belum tau pasti medannya hingga jadi seperti apa. Cecep awalnya tetep pengen ke Pasar Bubrah, trus saya pura-pura kram lagi (sori Cep yg di sini kramnya bo’ongan :mrgreen: ) dan Cecep pun akhirnya gantian ngajak ngecamp di situ (akting sukses! berbakat jadi artis :-D ) setelah tenda selesai dibangun dan kita masuk langsung mak bress! wuih deres banget hujannya, untung udah di dalem tenda.. aman meski ngrembes.. :-)

 

hujan deres, tenda rembes

setelah tidur, jam 3an ada cahaya senter di luar tenda.. dan.. saurr!! saurr!! wah ternyata mas Endar, eh mas Enda yg nyusul sendirian membawakan nasi kucing belasan bungkus! padahal cuma 3 orang! :shock: makan sampe kenyang! maturnuwun mas! dan sekitar jam 5 matahari mulai nongol, kita bertiga bangun bersiap lanjutkan pendakian.

foto pagi-pagi deket tenda, masih merem

dari sini hingga “puncak” sebelum Pasar Bubrah trek makin menanjak dan full bebatuan, tak ada pohon lagi di dekat jalur. di “puncak” sebelum Pasar Bubrah sudah tak terlihat lagi monumen untuk mengenang pendaki yg meninggal di Merapi, sebagian besar terkubur, sementara yang 1 monumen Achpasena yg merupakan kakak angkatan saya di SMA terlihat tinggal besi penyangganya 2 kaki, 2 kaki lainnya dan batunya ilang entah ke mana.. dari situ kita turun ke Pasar Bubrah, yg sudah berbeda jauh batu-batunya dari yg dulu saya kenal, berganti batu-batu yg baru dan abu Merapi yg mengeras.

mencari jalan menuju puncak di depan mata

setelah melihat ke arah puncak dan berpikir,”bisa kah didaki? lewat mana?” akhirnya kita putuskan mendekatinya, dan mencoba mendakinya dengan hati-hati memilih jalur yg paling mudah di antara yg susah semua itu. pelan-pelan kita mencoba, mencari pijakan yg agak stabil dan tidak mudah longsor (nyaris tak ada yg benar-benar menancap stabil, semua masih labil) bahkan sebuah batu seukuran semangka sempat menggelinding ke arah saya yg berada paling belakang. setelah itu saya agak jaga jarak, seringkali kita bertiga berbeda dalam memilih jalur (di sini semua adalah jalur, tapi semua juga bukan benar-benar jalur) yg masing-masing anggap paling mungkin dan aman untuk didaki namun tetap dengan satu tujuan dan saling komunikasi serta mengingatkan.

di atas Pasar Bubrah, disaksikan Merbabu

hingga akhirnya kita kumpul lagi di sebelah kanan (dulunya jalur ada di kiri, tapi sekarang untuk menuju ke jalur lama penuh pasir, kerikil, batu yg sangat gampang longsor) batu yg dulu bentuknya mirip duren raksasa yg udah dibelah, tapi sekarang agak beda. dari situ harus sedikit memanjat batu-batu gede ke arah kiri.

hampir puncak

kemudian berjalan mendekati jalur lama, yg menuju ke kawah mati (dulu). dan akhirnya sekitar jam 8 pagi sampailah kita di sekitar kawah mati (kalo dulu)! eh, sekarang mentok di sini! inilah puncaknya! tak ada lagi jalan ke kanan menuju puncak Garuda! yg ada langsung berhadapan dengan kawah yg ada di bawah, inilah yg kalo dari Jogja terlihat puncak Merapi terbelah itu! tepat di puncak sebelah kanan (timur) belahan.  wow..! subhanallah.. mengerikan membayangkan letusannya yg mampu menghilangkan batu-batu gede dan membelah puncak lama hingga seperti itu. akhirnya kita tak berlama-lama di puncak, karena angin sangat kencang dan pijakan kita gampang longsor untuk berdiri tegak dengan dua kaki pun sangat sulit. oya, di puncak baru ini tercatat ketinggian sekitar 2940-an lebih dikit mdpl di hape saya. lebih rendah dari puncak Garuda dulu yg kalo tak salah ada di angka 2968 mdpl

tiarap di puncak

setelah foto-foto kita turun dengan mengambil jalur lain, kurang lebih mungkin sekitar jalur lama. tapi makin ke bawah jalur pijakan yg agak stabil yg kita ikuti memaksa kita ke kanan hingga berada di cekungan mirip sungai, banyak batu yg masih berasap dan sangat panas, saat tangan saya menyentuh langsung terasa panas, kayaknya melebihi panas ceret ketika air mendidih, padahal saya udah pake kaos tangan. :shock: saat perkiraan ketinggian mendekati Pasar Bubrah kita mencari jalur untuk ke kiri, menuju Pasar Bubrah. karena kalo terus mengikuti sungai akan turun ke selatan, arah aliran lahar ke arah Sleman/Klaten yg berupa jurang-jurang dalam. dan akhirnya kembali lagi di Pasar Bubrah.. alhamdulillah.. lega rasanya.. :-D

turun, ke Pasar Bubrah

lanjut turun ke tenda, makan siang, packing, turun lewat jalur yg sama dengan naiknya. tapi setelah Selokopo atas kali ini kita ambil jalur yg melalui punggungan untuk menghindari pohon-pohon tumbang yg berserakan di jalur Kartini. selanjutnya terus turun hingga jam 13.33 sampailah kita di Joglo New Selo! alhamdulillah.. kita berhasil menuntaskan pendakian kali ini dengan selamat, tanpa masalah berarti.. cuma sandal mas Enda jebol saja.. :mrgreen:

turun.. turun..

buat yg dalam waktu dekat pengen ke Merapi, perkirakan saat sampai Pasar Bubrah masih pagi, karena akhir-akhir ini Merapi sering diguyur hujan pada sore hari. trus kalo pengen ke puncak, pastikan fisik, mental, serta cuaca dalam kondisi yg bagus, nggak ada tanda-tanda akan hujan ato kabut, saran saya tetep di Pasar Bubrah aja kalo ada tanda-tanda hujan ato kabut, jangan nekat naik karena kemungkinan besar jalur ke puncak akan jauh berubah lagi jika hujan deras. kalo setelah sampai Pasar Bubrah melihat puncak ga yakin, mending ditunda dulu niat muncaknya. yah selalu berhati-hati dan jangan lupa berdoa kepada-Nya memohon perlindungan agar selamat sampe bawah lagi serta jangan meninggalkan sampah!

ingat,

take nothing but picture!

leave nothing but footprint!

kill nothing but time!

di "puncak" Pasar Bubrah

oiya, sedikit mengingatkan.. dengan artikel ini bukan berarti saya mengatakan bahwa Merapi sudah aman, karena sebenarnya pendakian Merapi masih setengah dilarang oleh pihak kepolisian dan TNGM, namun pada penerapannya seperti setengah hati, cuma tulisan thok tanpa ada petugas yg berjaga dan oleh warga sekitar pun diperbolehkan. katanya kalo memang pengen ke Merapi, silahkan.. dan harus sepenuhnya sadar bahwa saat pendakian segala resiko dapat terjadi dan menjadi tanggung jawab masing-masing.

tuh masih dilarang

wah tak terasa ternyata udah panjang banget artikelnya.. cukup sekian dulu lah, semoga berguna dan salam damai dari kota Geplak.. ;-)

 

 

kawah mati sebelum letusan 2010 masih ada tebing bebatuan yg mengelilingi

 

kawah setelah letusan 2010, tak ada lagi tebing batuan yg mengelilingi kawah mati lama di sisi utara-selatan, jarak barat-timur juga menjauh

di puncak, bibir kawah, tampak di foto arah selatan

puncak Garuda dulu kurang lebih ada di arah ini, agak ke kanan atas

About these ads
Tinggalkan komentar

54 Komentar

  1. zaqlutv

     /  14 Februari 2011

    mantabssssss

    Balas
  2. Jos gandos! Btw…kenapa disebut “pasar bubrah”?? Ada sejarahnya?

    Balas
    • Pasar Bubrah tu denger-denger adalah pasar lelembut di Merapi, kalo malam-malam tertentu katanya sering terdengar suara mirip percakapan ramai banyak orang kaya di pasar gitu. kalo tempatnya sendiri penuh batu/pasir tak beraturan(bubrah). jadi dinamakanlah Pasar Bubrah. CMIIW

      Balas
  3. Wuuuaahhhh!!! gak ajak ajak mas moko ki! :evil: belum pernah ndaki merapi, pengen ki.

    Balas
    • hahaha… wingi ra ngomong.. :-P
      lho wong Jogja wis ndaki ngendi wae kok omahe dhewe durung? ayo langsung berangkat wae! haha

      Balas
  4. tigerpiceks

     /  14 Februari 2011

    mantab tenan!!!! thx picsnya!!!mantap surantabbb!!

    Balas
  5. Berani bener Gan, saluth, sarat pengalaman pastinya. Apa kedaftar kuncen enom yo ? :)

    Balas
    • buahahaha.. masa’ nubie gini jadi kuncen? ntar kalo ada apa-apa yg ada aku lari paling dulu.. :mrgreen:

      Balas
  6. Keren pak…
    4 jempol :mrgreen:

    Balas
  7. pakbambangnunggangjaran

     /  15 Februari 2011

    wah nek aku ra wani samar ketemu mak lampir

    Balas
  8. varioputiih

     /  15 Februari 2011

    loh!?
    kayak e jalur baru udah dibuka sama metro TV!?
    belum toh?

    Balas
    • kalo yg sampe Pasar Bubrah emang udah dibuka kok, warga sekitar juga bilang udah bisa sampe Pasar Bubrah. tapi kayaknya yg jalur pos 1 trus lewat punggungan, bukan yg jalur Kartini. trus kalo yg Metro TV kalo ga salah baru sampe Pasar Bubrah, yang ngrekam pas ada semburan asap itu kan bro? ini linknya:
      http://metrotvnews.com/read/newsvideo/2010/12/13/118700/Kawasan-Merapi-Tandus-dan-Kering
      di situ di tulisannya sampe puncak Garuda, tapi videonya bilang mentok d Pasar Bubrah yg dirasa aman. kalo puncaknya yg keliatan di video bukit batuan ngebul itu. kalo puncak Garuda sendiri sudah ilang kok.
      tapi juga ga menutup kemungkinan sebelumnya ada yg naik lagi dari Pasar Bubrah, karena di beberapa titik ada tanda kain kuning mirip buat tanda jalur, tapi kainnya mentok sekitar 100 meter sebelum puncak.

      Balas
  9. nick69

     /  15 Februari 2011

    Mantaff

    Balas
  10. nick69

     /  15 Februari 2011

    Oalaaagh.
    Pasar bubrah aku kira seperti pasar yg jualan sembako/sayuran.
    ternyata nama tempat dipuncak merapi tho :mrgreen:

    Balas
  11. bejo

     /  15 Februari 2011

    mantafff
    itu bibir kawah opo ngga panas

    Balas
  12. lha itu gunung faforitku saat sma..sobo gunung terus … selo tempat nyepi tiap hari sabtu…

    puncak garuda masih ada kah…?

    Balas
  13. @Nick
    pasar beneran tapi yg jualan bukan manusia :mrgreen:
    @Bejo
    bukan tepat di bibirnya kawah sih, agak jauh saya sekitar 50-100an meter di atas kawahnya. cuma bentuk puncaknya mirip bibir lg mangap. kalo di situ ga begitu panas, kebetulan pas anginnya gede banget juga :-)
    @99
    wah sama! Merapi udah kayak rumah sendiri, kapan lagi pengen langsung berangkat kadang naik sendiri. :-D kalo puncak Garudanya udah ilang, tanpa bekas, dataran di sekitar puncak Garuda aja ilang :-(

    Balas
  14. cakep mas bro, jadi pingin ikut

    Balas
  15. seneng aku sik ngene iki:cool:

    hmmmm awas koen, ga ngajak2 :evil:

    ingat,

    take nothing but picture!

    leave nothing but footprint!

    kill nothing but time!
    ==================
    iki maksude but opo kecuali? :mrgreen:

    Balas
  16. zach12

     /  16 Februari 2011

    hehe taon baru 2011 maren ada polisi yang jaga jadi gak bisa naek ….
    ayo bro awal maret naek lagi ….
    Itu spanduknya udah digeser disitu toh …oya gak ada personel polisi lagi toh….
    Lalu mentoknya puncak cuman sampe sekitar kawah mati saja ? keatas lagi gak bisa ya

    Balas
    • ho’o bro soalnya kalo taun baru biasanya banyak yg naik, saya taun baru yg 2010 juga ke Merapi rame banget, kalo ga dijaga ya resiko gede juga. kalo kemarin udah ga ada pak polisi lagi.
      yup kurang lebih sekitar kawah mati, bukan ga bisa ke atas lagi, tapi udah ga ada dataran lagi yg lebih tinggi.. :mrgreen: datarannya yg dulu dari kawah mati ke kanan, trus belok kiri dikit puncak Garuda itu udah ilang tanpa bekas.

      Balas
  17. @Bons
    ayo pak, sapa tau ketemu bakal bonsai khas Merapi.. ;-)

    @Asmara
    penghuninya makhluk halus, tapi bukan makhluk berkulit halus.. :mrgreen:

    @Aziz
    yoi terutama pas tangi turu cool banget.. :cool:
    ayo kapan-kapan Koboys munggah bareng ;-)
    but? kayane sih kecuali, mung kopas boso londo ra ngerti artine.. :mrgreen:

    Balas
  18. mas foto lainnya kemana… masih kurang jelas untuk posisi puncaknya

    Balas
    • photo yg lain bisa dilihat di link yg saya kirim ke email mas.. tapi memang ga banyak, soalnya pas di puncak angin gede, jadi buat berdiri aja susah n ngeri.. :-)

      Balas
  19. hebat aku kemarin cuman kurang dikit ampe puncak.. malam tahun baru

    Balas
  20. kok fotonya kayak gitu

    Balas
  21. @Agung
    kayak gitu gimana mas? ga keliatan jelas ya di puncaknya? maklum kamera pas-pasan.. tapi ya emang kayak gitu ding, kalo yg pernah ke sana pasti ngerasa agak gimana gitu.. sedikit asing..

    Balas
  22. foto yang lain yang tidak bisa dibuka

    Balas
  23. henry

     /  21 Februari 2011

    kemaren saya juga baru aja ke puncak merapi mas, susah banget cari jalannya, lewat mana-mana rawan longsor,,
    nyampe puncak belerangnya tebel terus gak ada pijakan yang kuat jadi cuma foto kawahnya aja,,terus panik bingung cara turunnya,
    untung masih selamat,baru kali ini naek gunung ada rasa takut

    Balas
  24. Rohman

     /  9 Maret 2011

    Aku dan teman2ku semua juga udah muncak ke merapi pasca erupsi 2010 mas bro….

    Balas
  25. Ayi' Surip

     /  12 Maret 2011

    Whoaaa…mantaaapppp…
    sip sip sip…
    jadi pengen naek merapi pasca letusan neh

    Balas
  26. weww, dah banyak berubah, puncaknya dah terhempas entah kemana ya

    Balas
  27. mampir Om… dadi pengen munggah :)

    Balas
  28. Novita Anggraeni

     /  16 Agustus 2011

    waaah, keren munggah merapi. jadi pengen,,,,, beneran udah aman ya??

    Balas
  29. ke mrapi lg yuk

    Balas
  30. sidik

     /  19 Agustus 2011

    bro, yg ngasih tanda kuning (100 m sblum puncak) sapa?
    27 februari 2011 q jg ndaki

    Balas
  31. catatan perjalanan yang oke, thums up :)

    Balas
  32. gmn kabarnya kang moko ?,.. hehe

    Balas
  33. WOWWWWW KERENNN… Ga bisa nanjak cuma bisa nikmati merapi dari kinahrejo :))

    Balas
  34. wooooooooooooooooooooooooooooowwww :: tak susul ke puncak merapi besok tgl 25 Desember 2011 >>

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: